Kamis, 26 Februari 2015

Cinta Pertamaku

Bermodalkan kulit sawo matang, dan senyum yang mempesona ialah Fathir, seorang pria yang ku kagumi sejak kelas 8 smp, memiliki tinggi badan yang ideal bak seorang atlet basket, dan mempunyai kecerdasan yang membuat ia semakin menjadi pria yang di idolakan setiap wanita, ingin sekali rasanya aku berkenalan dengannya, walaupun hanya dikatakan sebagai teman, akan tetapi segelintir hasrat ini ingin melampaui dari itu, aku berserah diri kepada tuhan, biarlah ia yang menentukan takdir hidupku.
Letak ruangan kelasku memang berhadapan dengan lapangan sekolah, jadi tak heran jika dari jendela saja kami dapat melihat aktivitas-aktivitas siswa yang berada di lapangan, kamis merupakan hari yang paling kutunggu, mengapa? Ya karena pada hari ini pria idaman ku memiliki jadwal berolahraga, tak sabar rasanya ingin melihat keahliannya dalam memainkan bola basket, yang terkenal lincah itu, sejenak aku memperhatikan guru yang sedang mengajar di depan kelas, akan tetapi aku lebih sering melihat ke arah jendela yang berarti aku sedang memperhatikan pria itu, sampai-sampai temanku menanyakan siapa yang aku perhatikan di balik jendela itu. “siapa yang sedang kamu lihat Reta?” tanya Dita, “enggaaak ppappa kok Dit”. Jawab ku dengan perasaan gugup, “oh aku tahu, pasti kamu lagi liatin dia yaa?”, “sssiapa bilang aaaku llagi liatin pohon” aku pun semakin tidak dapat mengelak. “ngaku aja deh nggak papa kok” rayu Dita, “hmm iya Dit aku lagi ngeliatin dia, aku pengen banget kenal sama dia”, “oh Fathir, kamu mau kenalan? Sini nanti aku bantu” sahut Dita, “nggak usah Dit, aku malu”. “alah nggak papa lagi, kita kan Cuma mau kenalan”, “iya deh terserah kamu, tapi janji ya cuma kenalan aja”, “siap mbak” kata Dita.
Tak lama bel istirahat pun berbunyi, tanda pelajaran ke 3 dan ke 4 usai, seperti biasa aku bersama Dita pergi ke kantin untuk mengisi perut yang keroncongan, tak sengaja aku menabrak sisi sebelah kanan tangannya yang sedang memegang air minum, dan air minum itu mengenai wajahku, dengan segera ia membersihkan wajahku yang basah dengan sebuah sapu tangan yang ia ambil dari saku pakaian, dan membersihkan secara perlahan, “maaf, ini semua salah ku” aku pun meminta maaf, “nggak papa kok, ini juga salahku yang jalannya nggak liat ke depan, oh iya kalau boleh tahu, nama kamu siapa?” ia pun mengajakk berkenalan, sampai akhirnya bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat telah usai.
Waktu pun menunjukkan pukul 12.30 Wib, yang artinya waktu pulang sekolah pun tiba, Dita yang awalnya berjalan denganku kini telah di jemput oleh sang kekasih, akhirnya tinggal lah aku sendiri menapaki jalan yang panjang dengan ditemani teriknya cuaca di siang hari, dari belakang tubuhku ini terdengar suara knalpot motor yang secara perlahan membuntuti ku, lantas aku memutar arah tubuh ku “loh, kok kamu ada disini?”, ia pun menjawab “aku nggak tega sama kamu, jalan kaki, di hari yang terik seperti ini, sini aku antar”. Ia pun segera menarik tanganku sebagai rasa sangat perduli dengan kondisiku, dan akhirnya aku diantar pulang hingga sampai ke rumah.

Seminggu berlalu hubungan kami pun semakin dekat, melalui via sms dan facebook kami lebih mengenal satu sama lain. Hingga tiba waktunya ia menyatakan perasaanya kepadaku melalui setangkai mawar yang ia berikan ketika pulang sekolah, “Reta, mau kah kamu menjadi pacar sekaligus penyemangatku?”, aku pun tak dapat berkata dan hanya dapat menganggukkan kepala, dan dari situlah dimulai cerita cinta pertamaku.


Penyesalan Ku

Ketika lembaran soal ujian di bagikan lya tampak senang, karena lya yakin nilai nya akan bagus
“uffff, untung soal nya mudah-mudah”, lya mengerjakan dengan cepat,
“lya no 37 apa?”, salah satu temannya bertanya
“mmm aku belum selesai”, lya berbohong kepada temannya, padahal lya sudah hampir selesai, ‘sorry ya bukannya aku gak mau ngasih tau, tapi nanti nilai kamu tinggi lagi’, ucap lya di dalam hati,
‘waduh ada yang sulit lagi…!!!, duh gimana ya’, lya pun kebingungan, lya pun ingin bertanya kepada temannya, tapi lya gengsi, dan takut dituduh temannya nilai tinggi tapi bukan usaha sendiri,
‘duh, aku nengok buku aja ya, tapi kalau ketahuan gimana…’, lya bingung, dan akhirnya pun lya melihat, dan pas membuka buku pengawas pun tahu, “simpan buku mu lya”, lya pun terkejut dan ketakutan, padahal itu guru kesayangannya, “ibu gak nyangka kamu kayak gini lya
“tapi buk, lya belum melihat satu pun kok” kumpulkan lembaran mu, dan nilai mu akan ibu kurangi,
lya pun menangis dan lya sangat menyesali perbuatannya, yaa ALLAH, maaf kan lya, lya khilaf. ini semua di luar dugaan ku, kenapa harus terjadi…?, dan kini pun tak ada lagi orang yang mempercayai ku, apa yang harus ku lakukan…?, dan kenapa penyesalan itu datang di akhir, andaikan di awal, mungkin tak kan begini…, hmmm, mungkin tak ada lagi buat ku untuk menyesal, nasi telah menjadi bubur dan tak dapat di kembalikan lagi…, yang penting aku tak kan mengulagi lagi.
Selesai…

Dia Atau Dia?

Di puncak masa putih abu-abu, aku dihadapkan dengan berbagai pilihan. Banyak pilihan yang harus aku tentukan demi masa depanku, atau aku akan menyesal. Salah satunya adalah cinta. Seringkali aku bercerita, membaca dan mendengar sebuah istilah yang sakral bagi pujangganya itu sendiri. Teringat sewaktu keseharianku yang masih kental dengan agama. Kerudung panjang dan lebar menutup dada dan punggungku, buku adalah media hiburanku, yang kubahas tentang ilmu, tersenyum bebas tanpa beban, aku jauh dengan hal-hal percintaan di luar pernikahan yang sekarang diistilahkan dengan “pacaran”. Sekarang, semua berbanding terbalik. Tetapi kerudung masih tetap kukenakan. Jika aku mengalami kesukaran dalam menghadapi sekian banyak resiko, aku merindukan sosok diriku yang dahulu, aku yang tak begitu peduli dengan pacaran.
Aku mengalami perubahan pada diriku semenjak aku mengenal Firman, yang kini statusnya pacarku. Entah apa yang kupikirkan saat itu, aku benar-benar mengalami sesuatu yang berbeda. Desakkan nafsu darah muda, aku tahu itu salah tapi aku memutuskan akhirnya berpacaran dengannya. Sebelum aku mengenalnya, aku terlebih dahulu mendambakan laki-laki yang usianya 10 tahun lebih tua dariku. Laki-laki itu adalah gambaran seorang ikhwan alim yang tindak-tanduknya persis dengan anak pesantren. Kulihat dari caranya beribadah, berbicara, dan berguraunya sangat santun. Berbeda dengan para laki-laki yang berlalu-lalang di hadapanku setiap harinya. Tetapi itu hanya bertahan sementara, sulit sekali mendapatkan laki-laki sepertinya sedangkan bila aku berkaca, aku hanya perempuan yang berusaha baik di akhir zaman. Teringat akan sebuah kalimat dalam al-quran, Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Sebaliknya, wanita yang hina untuk laki-laki yang hina pula.
Akhirnya, aku berpacaran dengan Firman hingga kini sudah berjalan 5 bulan. Kami menjalani hari-hari tanpa duduk berdua, berpegangan tangan, bertatapan mata, bahkan bertemu saja jarang. Hanya sebatas SMS dan chartting. Selama itu, kami banyak menemukan berbagai masalah. Awalnya, perasaanku tak setengah-setengah tapi kenyataannya dia mudah sekali tertarik dengan perempuan. Semenjak itu, kesalahan yang sama selalu diulang. Berjuta alasan diucapkan, tidak sedikit pun hati merasa tenang ketika dia mulai beralasan. Dalam pikiranku “Dia bohong!”.
Awal tahun 2014, dia tidak menghubungiku dengan alasan tak mampu membeli pulsa.
“Beli rok*k, tiket event metal, dan belum lagi kebutuhan kesenangan yang lain dia mampu, terus aku dianggap apa? Nggak penting?” gerutuku dalam hati. “Terus, kalimat yang katanya aku orang yang paling disayanginya, apa cuma ‘speak’ doang?!”
Big liar!
Sampai di puncak lelah, aku mulai sedikit merasa terbiasa dengan sikapnya seperti itu. Alhasil, aku diam dengan segala tingkah lakunya. Ketika aku mulai dianggurkan, ada seseorang yang kerap datang sekedar untuk menyapa.
Yogga…
Sudah hampir setahun aku mengenalnya. Lebih lama aku mengenalnya daripada Firman. Awal aku mengenal, banyak kesan buruk yang kulimpahkan pada Yogga dan pada akhirnya Allah mulai menurunkan wahyu berupa keadilan untuk dia. Aku mulai merasakan bahwa dia memang yang selalu ada walaupun dalam keadaan apapun. Perkataanku yang buruk saja saja dia ingat bagaimana konteks kalimatnya. Hal kecil yang berhubungan denganku dia tahu persis. Walaupun sempat dia merasa lelah dengan sikapku. Salahku yang hanya memanfaatkan kehadirannya sebagai tempat pelampiasan tapi pada akhirnya keadilan lagi berpihak padanya. Entah, perasaan apa yang datang padaku!
Nyaman, tenang, bahagia, lepas bebas tanpa beban. Terbukti akhirnya ucapan sahabat kecilku, Silvi.
“Lihat deh mbak! Suatu saat pasti perasaanmu berpaling sama Yogga pas pacarmu minggat nggak tahu kemana.” ucapan Silvi masih terngiang.
“Oh ya? Apakah mungkin?” batinku.
Dan ternyata, semua memang benar terjadi. Sekarang aku dihadapkan dengan dua pilihan. Dia atau dia?
Aku hanya berharap semua selesai tanpa membawa luka yang kekal. Aku yakin, Allah tidak tidur. Dia tahu siapa yang lebih banyak berkorban untukku, dan siapa yang menyepelekanku. Atau, aku akan kehilangan keduanya?
Entahlah, aku bingung. Dia atau dia?


Ayunan Merah

Pagi ini terlihat sangat cerah. Angin bertiup dengan lembut menembus kulitku dan juga membuat rambutku menari-nari. Burung-burung berkicauan di jendela rumahku. Ku buka jendela, dan ku lihat matahari belum muncul juga. Memang, pagi itu terlihat sangat sejuk dan juga membuat nyaman tetapi tidak dengan hatiku.
Tetap sama, mendung.
Akhir-akhir ini, aku sering termenung dan memikirkan tentang hal-hal yang mungkin tak akan pernah terjadi. Ya, tak akan pernah terjadi. Bertahun sudah aku menunggumu di kota kecil ini. Aku cukup tahu itu menyakitkan bagiku dan juga perasaanku. Namun apa yang harus aku lakukan selain menunggu dia kembali?
“Selamat pagi” ucapku dalam hati, dengan harapan dia mendengar sapaanku untuk pagi ini.
Ku arahkan pandangan mataku ke taman bunga yang berada tepat di bawah kamarku. Teringat dulu aku dan dia sering bermain di ayunan kecil yang hingga saat ini belum hilang dari tempatnya. Aku sudah bilang kepada ayah untuk tidak memindahkannya atau bahkan menjualnya. Terdapat berbagai bunga yang sedang menyapaku di sebelah ayunan kecil itu. Bunganya memang cukup banyak karena dulunya merupakan sebuah kolam kecil yang sering aku gunakan untuk berenang bersamanya.
“Aku rindu…”
Tiba-tiba kata itu terlontar dari mulutku. Jujur saja, aku benar-benar rindu akan hal-hal yang telah aku lalui bersamanya. Aku mencoba mengingat kembali hal-hal yang sudah aku lalui dengan dirinya di ayunan kecil itu…

“Kamu nanti kalo sudah besar mau jadi apa, Din?”
“Mau jadi apa ya, aku mau jadi dokter atau jadi pramugari. Kamu Dan?”
“Aku mau jadi pilot atau jadi astronot.”
“Wah, hebat dong. Semoga tercapai ya Dan.”
“Iya, terimakasih Adin. Kalo sudah tercapai, aku mau kamu jadi ibu untuk anak-anak aku nantinya”
“Kenapa?”
“Rahasia. Kamu harus janji ya sama aku. Kamu harus jadi ibu buat anak-anak aku nantinya”
“Iya. Aku janji”

Aku tertawa kecil saat teringat dengan janji yang sangat konyol itu. Apakah dia masih mengingat janji itu? Apakah dia serius dengan janji yang dia ucapkan 11 tahun lalu disana? Apakah dia merindukanku? Apakah dia mengingatku? Pertanyaan-pertanyaan terus muncul di kepalaku. Untuk kesekian kalinya, ayunan kecil dengan cat berwarna merah itu mengingatkan aku tentang dia yang telah pergi ke negeri sebrang 2 tahun lalu dengan meninggalkan sepucuk surat di atas ayunan itu yang bertuliskan
“Tunggu aku, Din. Aku bakal balik buat kamu.”
Hingga saat ini tak ada kabar dari Dani. Dia hilang tanpa suara dan aku tenggelam dalam kepedihan batin. Aku, Dia, Terpisahkan oleh Jarak, Terjebak dalam Kerinduan, dan Terhanyut dalam Keraguan.


Hingga Akhir Waktu

Ku buka tirai jendela kamarku. Matahari bersinar cerah, seperti berlawanan dengan suasana hatiku yang masih seperti semalam. Semalam jantungku berdegup kencang. Kini deg deg-an itu menghilang. Tapi resah itu masih ada. Sesekali kuhela nafas panjang. Mungkinkah ini firasat? Atau ini pertanda penyakit? Ah, harusnya tak perlu kuperdulikan perasaan ini. Kuikhlaskan semua ini. Apa yang akan terjadi hari ini, biarlah terjadi. Akhirnya kurasakan sedikit ketenangan. Perasaanku lebih baik sekarang. Kalau begini, aku siap menghadapi hari dengan senyuman. Aku harus ke kampus hari ini, kuharap semuanya lancar.
Aku sedang mengobrol di bawah pohon bersama dengan teman-temanku saat tak sengaja kulihat dia berdiri di depan ruang kuliah. Aldy, cowok yang akhir-akhir ini mendekatiku. Sudah lama aku mengenalnya. Ia adalah sosok yang dewasa dan perhatian. Tapi bukan dia, bukan dia yang selama ini mengisi relung hatiku. Tapi dia yang satunya lagi. Dia yang baru saja keluar dari ruang kuliah. Dia yang kini berjalan ke arah lapangan parkir. Dhion. Cowok jangkung, pendiam, tapi humoris. Tapi dekat dengannya juga bukan berarti ia memiliki rasa yang sama seperti rasa yang kumiliki untuknya. Telah kucurahkan isi hatiku kepada ibu. Ibuku menasihatiku untuk memilih orang yang mencintaiku. Ibu seakan memahami, bahwa cinta yang kumiliki selama ini kepada Dhion sebenarnya bertepuk sebelah tangan. Kini kubuka hatiku untuk orang lain. Orang yang mungkin bisa membahagiakanku.
Aldy menghampiriku. Senyum manisnya akhir-akhir ini menghiasi hari-hariku. Tatapannya yang teduh dan sapaan hangatnya mulai membuatku merasa ada yang kurang saat lama tak berjumpa dengannya. Tapi aku enggan menunjukkan perasaanku. Aku masih tidak yakin akan diriku. Di hatiku masih ada Dhion.
“Zia, nanti malem ada acara gak?” tanya Aldy, yang kini duduk tepat di sisiku.
“Hm, kayaknya gak ada. Kenapa?” sahutku datar. Seperti biasa.
“Keluar yuk, di tempat biasa ya” katanya sambil tersenyum.
“Boleh deh” sahutku.
“Ya udah kalo gitu aku pulang dulu ya. Ada kerjaan nih. Kamu masih ada kuliah kan ntar lagi?”
“Iya. Masih ada kuliah, ya udah hati-hati ya”
Aldy mengangguk lalu berlalu. Berjalan menuju lapangan parkir, menunggangi kuda besinya lalu pergi meninggalkan kampus.
Saat Aldy berlalu, kulihat seseorang berjalan dari arah lapangan parkir menuju ke arahku. Dhion. Dia sedari tadi mengobrol dengan temannya di lapangan parkir.
Jantungku berdegup kencang. Kali ini aku tahu mengapa. Pasti karena Dhion.
“Zi, nanti malem keluar yuk?” kata Dhion
“Hah? Kemana?” Serasa mimpi. Dhion memang ramah terhadapku. Tapi baru kali ini ia mengajakku pergi bersamanya.
“Nonton pertandingan sepakbola. Gak enak sendirian nonton. Gak seru. Nanti nontonnya di stadion deket rumahmu. Aku tunggu di depan stadion ya, soalnya masih ada perlu dengan temanku disana. Nanti aku sms kamu deh. Tapi kamu gak ada acara kan entar malem?”
“Gak ada kok” Ah, apa yang kukatakan tadi? Bukankah aku ada janji dengan Aldy. Apa yang harus kulakukan?
Sepulang dari kampus kuceritakan semua kejadian hari ini kepada Ibuku. Aku bingung dengan kedua janji yang telah kupilih di waktu yang bersamaan. Aku meminta pendapat beliau mengenai pilihan yang terbaik.
“Sayang, kamu kan lebih dulu janjian dengan Aldy. Nah, kamu samperin Dhion, kamu minta maaf ke dia kalo gak bisa nemenin nonton karena kamu ada keperluan lain. Gitu aja” Kata Ibu.
Benar memang. Aku seharusnya pergi menepati janjiku dengan Aldy, tapi aku sebenarnya ingin menemani Dhion. Ku anggukkan kepalaku, menyetujui saran Ibu. Tapi pikiranku masih melayang.
Aku berjalan menuju stadion tak jauh dari rumahku untuk menemui Dhion dan membatalkan janjiku dengannya. Tapi apa yang kulakukan. Aku justru menemaninya menonton bola. Rasa senang bercampur dengan perasaan bersalah karena melupakan janjiku dengan Aldy. Dhion yang kini berada di sisiku tak mampu mengalahkan rasa gelisahku saat ini. Aldy pasti kini sedang menungguku di café tempat kami biasa bertemu. Aku tak tahan dengan rasa gelisah ini. Entah mengapa aku merindukan dia sekarang. Aku merasa apa yang kupilih saat ini salah. Apa yang kulakukan kini adalah melawan kata hatiku. Aku beranjak dari kursi yang kududuki, Dhion menatapku.
“Mau kemana?” tanyanya.
“Maaf Dhion, aku ada perlu. Aku pergi dulu”
Aku berjalan cepat, keluar dari stadion. Kupercepat langkahku, hingga aku setengah berlari menyusuri jalan menuju café itu. Air mata membasahi pipiku. Sambil berlari, kuusap air mata yang merembes. Aldy, kuharap kamu masih disana.
Aku terengah-engah saat kulihat Aldy masih di dalam café tempat kami biasa bertemu. Aku duduk di hadapannya, dia sedang membuang muka karena sedang menelpon. Mungkinkah ia marah? Ia sebal karena aku datang sangat terlambat? Hampir dua jam?
Aldy menunduk dengan tatapan kosong. Ia tak mau memandangku. Ia lalu berdiri, dan beranjak dari tempat duduknya. Berjalan keluar dari café dengan langkah cepat.
“Al! Kamu marah?”
Aku mengejarnya untuk menjelaskan semuanya. Tapi ia tak mendengarku, ia terus pergi. Aku menangis.
Aku berjalan dengan gundah, berjalan searah dengan arah Aldy pergi. Aku tahu tak mungkin menyusulnya karena ia menaiki motor. Tapi aku tetap berjalan. Entahlah, mungkin aku hanya berusaha menghukum diriku sendiri. Tapi sepertinya Tuhan memahami keinginanku untuk bertemu lagi dengan Aldy. Tiba-tiba aku melihatnya turun dari motornya di suatu bangunan. Entah apa, aku tak begitu memperhatikan. Aku hanya ingin mengejarnya. Aku berlari terus. Kulihat ia masuk ke sebuah ruangan, aku ikut memasukinya.
“Kenapa bisa seperti ini?” tanya Aldy kepada seseorang di sampingnya.
Aldy duduk di samping tempat tidur. Di atas tempat tidur berbaring seseorang. Aldy menggenggam erat tangannya. Kulihat ada ayah dan ibuku juga disana. Kudekati kasur pesakitan itu. Aku terhenyak, ingin berteriak.
“Tuhan, apa yang terjadi padaku?” bisikku lirih.
Aku terduduk, terdiam. Tak tahu harus berbuat apa. Samar-samar kuingat saat sebuah sinar terang menyilaukan mataku ketika aku berlari menuju café itu. Sekarang aku ingat semuanya. Aku tersadar. Tak ada yang bisa kulakukan.
“Aku bakal nunggu kamu buka matamu sampai kapanpun, Zi. Aku bakal nemenin kamu disini. Saat kamu bangun nanti, kuharap kamu mau menemaniku menghabiskan sisa umurku bersamamu” Aldy menggenggam erat tanganku, air mata membasahi pipinya. Air mata yang tak bisa kuusap karena aku tak bisa menyentuhnya. Aku menangis dan berteriak. Tak ada yang mendengarku. Tunggu aku Al, jika Tuhan mengizinkan aku akan segera kembali untuk memenuhi janjiku dan menemanimu. Hingga akhir waktuku.


Penantian Sia-sia

Masa ini adalah masa yang menyenangkan bagi setiap anak yang akan melakukan transisi dari remaja ke dewasa yapz tentu saja masa itu masa SMA, mungkin setiap anak SMA tidak akan bisa melupakan cerita SMA yang pernah mereka alami. Begitupun denganku, walau sekarang aku sudah kuliah, sudah menjadi mahasiswa bukan anak SMA lagi, tapi kenangan di SMA itu masih terbayang jelas dalam memoryku. Itu tidak akan terlupakan, karena saat itu adalah saat yang sangat indah. Di SMA lah aku ketemu dia, dia cinta pertamaku. Yang kini sedang kuliah di luar negeri.
Hari ini aku sangat senang sekali, Pukul 13.00 siang ini aku akan bertemu dengannya, karena siang ini dia akan pulang dari London untuk berlibur. Sejak pukul 10.00 aku telah sampai di bandara, aku tidak mau terlambat menjemputnya. Sebenarnya hari ini aku ada kuliah tapi demi dia aku tinggalkan kuliah hari ini.
Waktu terus berlanjut tanpa ku sadari jam kecil yang berada di tanganku, hampir menunjukkan pukul 13.00, aku sudah tidak sabar ingin cepat-cepat melihatnya. Tapi sampai jam kecil itu menunjukkan pukul 15.00 dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Aku mulai lelah menunggu, terus ku pandangi arah tempat orang-orang keluar dari pesawat itu.
Ketika aku akan menyerah untuk menunggunya dan aku putuskan untuk pulang, tiba-tiba sosok yang aku nanti dari tadi sedang berjalan keluar menuju ke arahku dengan senyum mengembang di wajahnya, dengan cepat ku berlari ke arahnya dan ku peluk tubuhnya, ya dia adalah kekasihku Beni. Tapi belum puas aku melepaskan rindu padanya, tiba-tiba seorang perempuan seusiaku dan dia tidak terlihat seperti wanita bule berjalan ke arahku dan merangkul pergelangan tangan Beni. Kutanyakan siapa perempuan itu, dia menjawab dengan gugup dan terbata-bata, yang akhirnya jawabanku dijawab oleh perempuan yang nggak aku kenal itu, “perkenalkan nama ku Lila, aku pacarnya Beni.”
Mataku terbelalak dan sangat terkejut mendengar jawaban cewek itu, aku benar-benar terkejut dan tak tahu harus bagaimana, air mataku jatuh dan mulutku tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Mendengar keterangan cewek itu aku nerasa berada dalam mimpi buruk, aku ingin cepat-cepat terbangun dari mimpi buruk itu, ku cubit pipi ku terasa sakit aku sadar ini nyata, Perlahan aku membalikan badan dan pergi meninggalkan mereka.
Aku tidak percaya, orang yang sangat aku sayangi dan aku rindukan, pulang dengan cewek lain yang berstatus pacarnya, mana janji dia yang dulu akan kembali untukku di Indonesia, mana kata setia dan kata manisnya selama ini padaku. Kata itu hanya kebohongan yang dirangkai oleh seorang cowok seperti Beni.
Aku menyesal telah memilih menunggunya dari pada kuliah, penantian ku sia-sia selama ini, penantianku tidak di hargainya, kesetianku di khianatinya. Hatiku yang tulus untuknya kini dilukainya dengan sebuah pisau yang sangat tajam.
Seminggu sudah aku tidak bertemu maupun melihatnya, aku memang tidak ingin melihatnya. Melihatnya sama saja dengan menorehkan luka di hatiku lagi. Aku juga tidak pernah mendengar kabarnya. Dia pun tidak pernah lagi menghubungiku saat ini, hanya dulu ketika pertama kali dia datang ke Indonesia dia pernah menghubungiku beberapa kali dan menemuiku sekali ketika aku berada di kampus. Waktu itu dia ingin menjelaskan kejadian yang di bandara tetapi aku tidak memberinya kesempatan. Setelah itu tidak pernah lagi aku melihatnya dan bertemu denganya. Selamat tinggal beni, selamat tinggal masa lalu… aku kan jalani hidup ini tanpamu sekalipun…
SEKIAN


Lirik Lagu Makan Darah - Rita Sugiarto

Dibilang benci aku rindu 
Dibilang bosan aku sayang 
Dibilang ku tak cinta nyatanya hatiku gelisah… 
Gelisah bila jauh dia 

Ah makan hati kalau kencan 
Aku ingin yang ini, dia ingin ini dan itu… 
Kacau jadinya serba salah 
Setiap jumpa selalu makan darah 

Bagaimana caranya mengatasi si dia 
Orangnya tak mau ngerti 
Maunya menang sendiri 

Ingin rasanya aku memutuskan cintanya 
Tapi aku takut nanti 
Susah cari pengganti 
Biar ku bersabar walau dia keras kepala






Bagi yang belum pernah mendengarkan lagu ini, silahkan mencoba mendengarkan :-)